tanpa judul
pagi menyapa
yang terbentang pula segala
ia, nan bersambut sedari gegap gempita meninggi
terdalam berpejam ia, menunggu pagi
anggun seirama, bertapak ia satu-satu
Dimana, kemana senyum simpul nan ayu
rayu dirayu kumbang nan lalu
mafhum bertitah
sedari satu berpandangan kala bersemburat kuning tua
tinggal seutas dulu bersimpan tanya
siapa pemilik gerangan tak kenal keluh kesah?
terlalu ingkar sebanyak daku berujar
sebenarkah daku sepenjara merah muda?
siapa jua bersangka tua sipemilik bertandang
disana ia bersenda pula menyapa tak peduli
berpandangan sedari berpuluh nan jauh
pribumi ayu
duduk tersipu
berselimut rindu
--mentari pagi--
Minggu, 20 Desember 2015
Senin, 07 Desember 2015
Sisa Badai di Sepasang Mata
SETIAP kali aku menatap matanya, aku merasa
melihat tanah-tanah kuburan tua, seperti melihat ladang-ladang yang terbakar
dalam senja, mengingatkanku pada pantai murung dengan onggokan kapal rusak dan
lelah. Ada badai yang selesai bertiup di matanya, dan kemudian diam selamanya.
Puing-puing dan segala yang berserpih adalah matanya yang sekarang, mata seusai
badai menerpa. Dan ternyata tidak sederhana bagiku, setiap kali aku sendiri di
malam hari, aku merasa sepasang matanya menyergap dan menikamku dari balik
gelap sana. Aku seperti dihisap dan digulung ke dalam badai yang telah selesai
bertiup di matanya.
Aku
tidak ingin tahu namanya. Aku tidak ingin tahu cerita tentangnya. Aku sungguh
tidak ingin menambah teror yang sudah merayap di tengkukku hanya lantaran
sepasang matanya. Orang-orang di kampung ini pun sepertinya tidak memasukkan
orang pemilik sepasang mata yang misterius itu dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Tidak ada yang bercerita tentangnya. Ia tidak ada pada setiap
hajatan dan upacara kematian. Ia tidak ada di warung kopi dan pos ronda. Ia
mungkin juga tidak tercatat sebagai warga kampung ini, tidak direcoki oleh
kewajiban membayar berbagai pajak-sekalipun ia tinggal di sebuah rumah dan
punya dua ekor sapi-dan aku sangat yakin dia tidak pernah ikut pemilu.
Tapi
bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Bukan karena aku sudah merasa
terteror dengan sepasang matanya. Tapi aku sekarang tinggal tepat di depan
rumahnya! Aku datang kurang lebih empat bulan yang lalu di kampung ini untuk
keperluan penelitian. Dan, oleh seorang kenalan kemudian aku mendapatkan sebuah
rumah kecil yang bisa kutempati dengan biaya yang sangat murah. Rumah kecil
tepat di depan rumah sepasang mata yang penuh dengan teror itu.
Pada
malam ketiga setelah kedatanganku, aku bertemu dengannya. Tiga hari dan dua
malam setelah kedatanganku kuhabiskan dengan menata dan membersihkan rumah yang
kutinggali. Malamnya tentu saja aku sangat lalah dan kupakai untuk istirahat.
Baru pada malam ketiga, aku keluar untuk bersilaturahmi dengan tetangga
kiri-kanan. Tapi aku urung mengetuk pintu rumah di depan rumah yang kutinggal
karena gelap tidak berlampu. Aku berpikir untuk mengunjunginya besok pagi saja.
Dan
kemudian aku menuju ke rumah kenalanku satu-satunya, lalu kami berdua pergi ke
sebuah warung kopi yang cukup ramai. Di sana kenalanku bertambah banyak,
apalagi setelah saling bersulang arak. Saat aku pulang, dengan kepala yang
begitu berat, aku melihatnya. Saat itu, ketika aku hendak membuka pintu
rumahku, aku merasa ada yang mengawasiku. Lalu aku menoleh ke belakang, namun
tidak kudapati siapa pun. Gelap ada di mana-mana. Hanya beberapa kelip lampu
yang menerobos dari dinding kayu tetangga kiri-kananku, dan lampu redup yang
menyala di pagar rumah yang kutinggali. Dan, ketika aku hendak melangkah masuk,
aku tetap merasa ada yang mengawasiku. Lalu kuputuskan untuk keluar lagi, dan
kuedarkan pandangku sekalipun segalanya tampak lamur karena bersloki-sloki
arak. Dan kudapati sepasang mata itu. Aku mendapatinya dari pendar lampu di
dekat pagar rumahku.
Awalnya
aku tidak yakin bahwa itu sepasang mata. Tapi memang kutangkap bayang-bayang
tubuh yang sedang berdiri di pintu rumahnya yang gelap. Dan kemudian baru
kuyakini bahwa itu sepasang mata. Aku mencoba tersenyum dan ingin
menghampirinya. Tapi entah kenapa, langkah kakiku seperti tertahan. Sepasang
mata orang itu seperti menjelma menjadi tembok kokoh yang menahanku untuk maju
mendekatinya. Sepasang mata seperti bolam susu yang kotor karena debu, sepasang
mata yang usai dari badai, sepasang mata yang melempar teror dengan cara asing
dan semena-mena.
Aku
hanya bisa membalikkan tubuh, menutup pintu. Senyum yang kulemparkan bukan
hanya sia-sia, senyum yang kulemparkan balik dengan kekuatan ganda melabrakku
penuh beda rasa. Aku pikir, aku bukan seorang penakut. Tapi begitu kututup
pintu, menguncinya, aku merasa tatap mata orang itu masih terus lekat di tubuhku,
seperti mengintaiku dari balik dinding-dinding kayu, dari lubang ventilasi,
bahkan ketika aku mencoba tidur, aku merasa sepasang matanya terus menyorotku
dari segala benda yang mencipta ruang-ruang gelapnya; dari lubang kunci, dari
sela-sela buku, dari atap dan di bawah dipan yang kutiduri.
Aku
baru saja tidur ketika hari mulai pagi. Dan semenjak itu, aku hanya bisa tidur
ketika sudah ada sinar matahari. Aku sudah mencobanya dengan mengganti bolam di
kamarku dengan yang lebih terang, dan aku mencoba tidur dengan lampu yang
menyala terang itu. Tapi sungguh sia-sia. Aku justru merasa seperti ada di
sebuah akuarium, dan sepasang mata itu terus melihatku dengan begitu leluasa.
Di
siang hari, aku merasa tak ada gangguan dengan sepasang mata itu. Siang hari,
ketika aku bangun dari tidur yang kumulai di pagi hari, aku bisa mendapati
rumah di depan sebuah rumah yang biasa saja. Di sekelilingnya tumbuh beberapa
pohon buah- buahan. Di sampingnya agak jarak, aku melihat sebuah kandang dengan
dua ekor sapi. Di sekeliling kandang itu tumbuh subur pohon-pohon pisang dan
sayur-sayur. Aku melihat laki- laki itu pulang pada senja hari dengan
sekeranjang penuh rumput di atas kepalanya, cangkul dan sabit, juga lintingan
rokok besar di tangannya. Tapi sepasang mata yang penuh teror itu selalu tak
bisa terlihat. Aku pikir mungkin karena ada topi lusuh yang bertengger di
kepalanya, juga keranjang penuh rumput yang di sana-sini rumputnya jatuh di
kepala dan punggungnya. Tapi kemudian aku benar-benar menyerah. Dari berbagai
arah, berkali-kali pada saat bertemu dengannya di siang hari, aku tetap tak
bisa melihat sepasang matanya. Aku ingin menantang tatapan matanya di siang
hari. Mata yang membuat malam-malamku menjadi resah dan menakutkan.
Ia dan
sepasang matanya berkuasa padaku di malam hari. Pernah pada niat yang begitu
bulat, kukerahkan dan kukumpulkan segenap keberanianku untuk menemaninya di
malam hari. Tapi sekali lagi entah karena apa, aku hanya bisa sampai pada pagar
hidup rumahnya. Rumah yang masih tetap gelap. Aku melewatinya berkali-kali
dengan perasaan tak menentu.
Akhirnya
kuputuskan untuk menemui kenalan-kenalanku di warung kopi sambil minum arak,
berusaha melupakan kebulatan tekatku yang tidak menghasilkan apa-apa. Dan
peristiwa yang makin memojokkanku datang di malam itu. Aku merasa ingin
kencing, lalu aku keluar dari warung menuju arah jalan yang agak sepi untuk
kencing. Sebetulnya begitu keluar dari warung, aku merasa malam segera
menyambutku dengan tusukan sepasang mata yang ada di mana-mana, ada di balik
setiap gelap. Tapi aku mencoba tidak peduli, juga karena aku memang harus
kencing.
Namun
tiba-tiba langkahku terhenti, di dekat sebuah satu tiang listrik, yang lampunya
di sekitarnya menyala redup, aku melihat sosok itu. Dan aku menatap matanya
dengan cukup jelas saat itu. Mata yang seperti selesai namun maih menyimpan
sisa badai. Aku gemetar. Tubuhku dingin namun mengeluarkan keringat. Suaraku
seperti hilang, dan aku seperti tak punya napas. Seluruh kulit di tubuhku
tiba-tiba bergerak sendiri. Aku hampir dihabisi oleh ketakutan yang terkutuk.
Lalu kulihat kemudian ia pergi, melenggang dengan langkah-langkah pendek dan
nyala api dari tangannya. Api lintingan rokok yang besar. Beberapa saat
kemudian, aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.
Segera
aku diburu oleh rasa marah yang sangat pada diriku, dan balik ke warung kopi,
minum bersloki-sloki arak, lalu kupinjam parang dari pemilik warung. Beberapa
orang agak heran, tapi kemudian aku bisa berdalih. Dengan tubuh yang menahan
marah aku melangkah menuju rumahnya. Aku masukkan parang di balik jaketku,
setelah aku sadar betapa memalukannya diriku. Apa salahnya padaku? Kenapa aku
bisa begitu terganggu dan ketakutan? Tapi aku tetap melangkah menuju rumahnya.
Apapun yang terjadi, aku harus bicara dengannya, paling tidak berkenalan, dan
aku ingin memastikan bahwa sepasang mata itu sesungguhnya tidak penuh dengan
teror. Tapi jika kemudian memang marabahaya yang ditawarkannya, aku meraba
gagang parang di balik jaketku, seperti meraba kemungkinanku untuk
mempertahankan diri.
Dan kudapati
ia di depan pintu rumahnya, masih dengan nyala rokok yang jika dihisap menjadi
bertambah nyalanya, dan sepasang matanya semakin terlihat mengerikan. Aku tetap
hanya bisa tertegun di pagar hidup rumahnya. Kami berdua hanya dibatasi dengan
pagar hidup pohon beluntas setinggi perutku , dan beberapa meter kemudian
tubuhnya bersandar pada salah satu sisi pintu yang terbuka, seperti menungguku.
Aku habis kata dan keberanian. Aku tetap mendapati sepasang matanya sebagai
teror menakutkan. Sangat menakutkan. Aku berbalik arah, dan seiring dengan
pengaruh arak yang merayap turun, aku semakin dirundung takut yang menyesakkan.
Sampai pagi tiba.
SEBULAN
sekali, aku ke kota untuk berkonsultasi dengan peneliti seniorku. Dan pada saat
yang agak jauh dari kampung itu, dari sepasang mata itu, aku bisa berpikir
dengan agak jernih. Itu sepasang mata orang yang telah mati, mata yang keruh.
Tapi kenapa di tubuh yang tegap dan hidup bisa memiliki mata orang yang telah
mati? Dan mengapa itu hanya terjadi di malam hari? Atau baiklah, aku tidak bisa
mengatakan itu hanya terjadi di malam hari, sebab aku tidak pernah melihat
matanya di siang hari.
Tapi
menurutku pertanyaan itu bisa kuganti dengan: mengapa aku merasa ada sepasang
matanya yang menakutkan itu, hanya menerorku di malam hari? Mungkin banyak
orang akan menjawab, mereka mengira aku takut hantu dan sejenisnya, yang selalu
hadir di malam hari. Itulah masalahnya. Aku tidak pernah percaya hantu, dan
malam hari bukan sesuatu yang selama ini menakutkan. Aku hanya takut pada dua
hal selama ini: kecoa dan ulat bulu.
Lalu
sesungguhnya apa yang menakutkanku, sehingga aku harus tidak nyaman tidur,
tidak leluasa berpergian ketika malam, dan beberapa kali gemetar tak karuan
ketika bertatapan mata dengan bertemu dengan orang itu? Dan lalu muncul
keinginan-keinginan untuk tahu siapa pemilik sepasang mata itu.
Tapi
setiap kali aku balik lagi ke kampung itu, segala keingintahuanku tiba-tiba
lenyap, bahkan aku tidak ingin mengerti dan tahu apa-apa tentang orang
tersebut. Tiba-tiba aku seperti berada dalam sebuah situasi dimana pemilik
sepasang mata yang menerorku itu tidak pernah ada di kampung itu. Tidak pernah
ada orang yang membicarakannya, menyebut namanya. Dan aku merasa bahwa memang
sepasang mata yang seperti orang yang telah mati itu memang hanya untukku dan
itu hanya ada di malam hari. Selalu saja, jika aku ada di kampung itu, aku
selalu merasa seperti tidak perlu dan tidak butuh semacam latar belakang dan
cerita tentang laki-laki itu. Aku tidak ingin menambah derajat ketakutanku. Biarlah
dia hadir dengan sorot matanya ketika malam. Toh aku tidak selamanya ada di
sana.
Tapi
pada saat jauh dari kampung dan orang itu, selalu saja aku dirundung tanya
dengan begitu saja. Umur laki-laki itu kira-kira seumur dengan pamanku, lima
tahun lebih muda dari ayahku. Tubuhnya gempal berisi dengan kulit yang agak
gelap terbakar matahari. Tidak pernah kulihat beralas kaki. Selalu melangkah
dalam langkah-langkah pendek dan mantap. Benar-benar tubuh orang hidup. Tapi
sepasang matanya….
Suatu
saat, dalam sebuah perjalanan balik menuju ke kampung itu, aku berhenti di kota
kecil. Dari kota itu ke kampung yang hendak kutuju masih berkisar satu setengah
jam masuk ke dalam bebukitan penuh ladang naik angkutan yang sehari paling
hanya ada tiga atau empat kali dalam sehari. Aku berhenti untuk berbelanja
beberapa kebutuhanku yang lupa kubeli. Selesai berbelanja, sambil menunggu
angkutan, aku masuk ke sebuah warung untuk makan siang. Begitu masuk, entah
mengapa, perhatianku langsung tertuju pada seseorang berbaju dan bercelana
hitam, baju dan celana yang komprang dan warna hitamnya mulai pudar.
Aku
duduk di sampingnya. Kuperhatikan lagi orang di sampingku. Cukup tua. Kutangkap
keriput di wajahnya. Hampir semua kumisnya berwarna putih. Ia memakai ikat
kepala dari kain. Diam. Asyik dengan rokok dan secangkir kopinya yang hampir
tandas.
Ia
menoleh padaku, melempar senyum. “Mau ke Dalam, Anak?” tanyanya sambil
menggeser tubuhnya, memberiku tempat agak leluasa.
Aku
mengangguk. ‘Dalam’ adalah istilah untuk menyebut daerah yang kutuju. Lalu aku
memesan kopi dan makan.
“Saya
juga mau ke sana.”
Aku
merasa agak lega. Setidaknya aku merasa ada teman menuju satu tujuan. Sebab
kadang-kadang memang tidak ada angkutan yang pasti ke sana. Aku berharap, dalam
hari yang masih siang seperti itu, masih ada sisa angkutan ke Dalam.
“Bapak
berasal dari sana?”
“Dulu.
Tapi sudah lama saya keluar dari sana.”
Aku
meneruskan makan, dan berharap tidak mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan
yang sepertinya enggan di jawab. Ia nampak masih asyik dengan kopi dan
rokoknya.
Sudah
beberapa saat kami berdua menunggu. Tapi angkutan menuju Dalam tak juga muncul.
Lalu kami putuskan untuk menunggu tepat di jalan menuju Dalam, siapa tahu ada
mobil maupun truk yang lewat dan kami bisa numpang. Hari berangkat menuju sore.
Di
sebuah rumah-rumahan yang mungkin bekas warung makan sederhana, kami menunggu.
Kami tidak banyak bercakap. Laki-laki itu lebih sering memunggungiku,
menebarkan pandangnya ke lanskap, ke arah Dalam, yang dari jauh terlihat hanya
sebagai bebukitan.
“Waktu
aku kecil, Dalam adalah hutan yang menghijau.” Laki-laki itu berucap, tapi
tidak seperti ditujukan padaku, sedangkan ia masih juga memunggungiku.
“Bapak
pernah tinggal di sana?”
“Hanya
beberapa keluarga yang tinggal di sana. Kami hidup dari hutan. Lalu datanglah
orang-orang itu, orang-orang yang mengaku berpendidikan. Mereka membangun
kompleks perumahan untuk orang-orang yang mengelola hutan. Lalu satu per satu
kemudian, ada sekolahan, ada tempat ibadah, ada tanah lapang. Dalam beberapa
tahun, banyak sekali orang yang datang. Tiba-tiba kami punya pasar, balai desa,
jalan diperlebar, angkutan dan mobil melintas. Membawa yang baru, dan membawa
pergi apa-apa yang dulu kami hormati dan junjung tinggi.”
Laki-laki
itu membalikkan tubuhnya, dan kulihat wajah yang mengeruh. Murung.
“Mau
tidak mau kami masuk dalam kehidupan mereka. Anak-anak dari keluarga kami
bersekolah, hutan dan alam adalah uang. Listrik masuk. Tidak terlalu ada beda
antara siang dan malam. Ikan-ikan di sungai menyusut, binatang-binatang hutan
langka. Hutan-hutan diatur dan dipetak-petak. Kami tidak bisa leluasa lagi
keluar masuk hutan, mendapatkan apa yang kami butuhkan. Mereka menjaga hutan
seperti menjaga barang perhiasan. Mereka membawa senapan yang siap ditembakkan
bagi penebangan-penebangan. Tetap saja ada kayu yang hilang, yang tidak mungkin
kami lakukan. Orang-orang kekurangan uang yang melakukannya, dan mereka
mendiamkannya, bahkan ada yang diam-diam dari mereka sengaja melindungi dan
membantu menjualnya.”
Ia
berhenti sejenak, melinting rokok dalam ukuran besar, mengingatkanku pada orang
bermata teror.
“Mereka
bilang akan mengelola hutan dengan baik, tapi itu semua bolong. Diam-diam di
antara mereka sendiri telah mencurinya. Mereka tidak benar-benar menjaga alam.
Orang-orang yang dulu menggantungkan hidupnya dari hutan diajari bertani dengan
sistem tumpang sari, tapi kebutuhan yang diajarkan mereka datang lebih cepat
dan besar.
Kami
berubah dengan merasa semakin miskin. Tiba-tiba kami ingin punya televisi,
ingin punya sepeda motor, dan hasil dari pertanian seperti itu tidak
memungkinkan. Lalu di antara kami yang menebangnya, menjual dengan diam-diam ke
orang- orang mereka. Tetap juga mereka yang kaya. Yang menebang yang kena
resikonya, tapi mendapatkan hasil yang tidak seberapa. Jika ada pemeriksaan
dari pusat, kami yang kena. Rumah-rumah kami digeledah, atau saat kami
menebang, mereka datang bersenjata dan menangkapi kami. Harus tetap ada yang
dianggap mencuri, sekalipun hasil terbesarnya ada pada mereka sendiri.”
Orang
tua itu membalikkan tubuhnya lagi, memandang Dalam dari kejauhan. Senja mulai
jatuh.
“Sekarang,
hutan itu habis. Terbukti mereka tidak bisa menjaganya, sebab mereka sendiri
yang mencurinya. Memang ada beberapa di antara kami yang menebangnya, itu
karena kebutuhan yang mereka ajarkan. Anak-anak kami yang merengek minta sepeda
dan mobil-mobilan. Perempuan-perempuan kami harus ikut arisan, rapat,
pengajian. Semua itu artinya uang. Itu pun tidak seberapa yang kami dapatkan,
dibanding dengan yang mereka dapatkan. Sebentar lagi, bukit-bukit itu juga akan
rata dengan tanah. Setelah tidak ada kayu, mereka akan mengambil tanah dan
batu.”
Aku
terperanjat seperti diingatkan. Dengan cepat kuraba tas punggung yang ada di
samping dudukku. Tas berisi berkas-berkas penelitian tentang kandungan tanah
dan batu di daerah Dalam.
Senja
beranjak gelap. Orang tua itu membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba aku merasa
gemetar. Aku mencari-cari sesuatu, dan pandangku berhenti pada sepasang
matanya. Sepasang mata itu!
Oleh: Puthut EA
Sepotong Senja Untuk Pacarku
Alina
tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin,
debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya
dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga
burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu
lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada
juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap
pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal
yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap
tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan
sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh,
karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah
terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah
apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya
dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya
dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia
ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang
mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri.
Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber
dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa
diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu
Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut
dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang
sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku
mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai,
memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu
bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi,
semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih
pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit
tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja
hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya
gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum
terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan
begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu
aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya
karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu
kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan
barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana
kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil
bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja
itu bisa kamu bawa ke mana-mana. Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat
orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena
senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina
sayang, Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku
telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang
menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia
mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat
gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomernya! Catat
nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku
sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak
seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu
berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap
tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya
senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu
meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa. Dari radio yang
kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana.
Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru
hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu
sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya
masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa
dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima.
Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang
asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” Di jalan tol
mobilku melaju masukkota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku.
Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang
tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara.
Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di
kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam.
Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk
turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah
senja yang kubawa ini dicari-cari polisi. Sirene polisi mendekat dari belakang.
Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. “Pengemudi mobil Porsche
abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan
karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya,
tapi berdasarkan…” Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia
sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip
dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene
polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu
seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap
yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya
diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah. Satu mobil terlempar di jalan
layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi
terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada
dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa
mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin
dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih
utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai.
Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina. Tapi Alina, polisi ternyata tidak
sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan
aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa
senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat.
Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong
yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku
berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas
sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke
suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. “Masuklah,” katanya
tenang, “disitu kamu aman. Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada
tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat
kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan
lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. “Masuklah, kamu
tidak punya pilihan lain.” Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab
jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar
gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus
celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam
kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam
kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga.
Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat
cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun
makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan
duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata
yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan
coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah.
Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu
boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju
ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di
mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu
untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak
burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak
bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi,
meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama. Aku berjalan ke tepi pantai.
Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan
dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada
cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “semua itu memang tidak perlu.
Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta.
Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin
diterjemahkan dalam bahasa?” Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir,
untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke
sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak
ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak,
tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya
burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan
berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu
apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak
ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang
ribut kehilangan senja…. Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat
dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada
cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri
dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi
kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong
bumiku yang terkasih. Sampai di atas, setelah melewati kalelawar
bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat
polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang
tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. Aku berjalan mencari
mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja
dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua
senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya
keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang
jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… Alina
kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian.
Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan
ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos. Aku
ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang
sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu. Kini
gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang
orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong
menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah
gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida
lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas
bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah
dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. Alina yang manis, paling
manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari
seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari
itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa
membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu,
dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi
di dunia. –Cerpen Pililihan Kompas 1993
Kamis, 19 November 2015
SAJAK ORANG MISKIN
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang
selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim..
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang
selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim..
WS Rendra
Langganan:
Komentar (Atom)