Sabtu, 06 Februari 2016


BERSAMA RINTIK HUJAN

Sudah 2 hari rintikan gerimis tak berhenti, mendung dan dingin menyelimuti memberikan rasa malas yang berlebihan pada tubuh ini, hanya ingin tetap dikamar dengan selimut tebal dan tetap mendengkur. Namun tidak untuk ku.
Ini sudah bulan ke enam semenjak ke pindahanku ke kota ini, kota yang katanya selalu akan dirindukan. Bukankah waktu bergulir begitu cepat selama enam bulan terakhir melihat apa yang terjadi pada ku. Menjadi sebuah rentetan cerita yang panjang dalam waktu yang singkat.
Angin berhembus bersama rintikan gerimis. Dingin. Kulangkahkan kakiku melewati gang-gang perumahan yang basah. Masih pukul 6.30. orang-orang masih malas untuk keluar rumah di pagi yang dingin. Harum aroma mendoan dan teh keluar dari celah-celah jendela rumah mereka. sederhananya menikmati hidup yang rumit.
Jalan raya juga tak seramai biasanya, yang bersemangat hanyalah tukang koran memamerkan koranya pada pengendara meski pun gerimis tak kunjung reda. 
baiklah masih 500 meter lagi menuju kampus. Ku hentikan sejenak langkahku di trotoar,  menatap mendungnya langit pagi ini, ku pejamkan mataku dan mem biarkan rintiknya meneteskan semangat untukku.

Aku hanya merasa kosong. Kosong. Aku seperti berjalan tanpa arah. Ketika apa yang telah ku perjuangkan selama setahun sebelumnya menjadi kenyataan tiba-tiba semua menjadi kosong tanpa ku ketahui sebabnya. Mimpi yang benar-benar semu. Semua tiba-tiba menjadi menyesakan. 
Dulu memang aku hanya hidup sederhana, dengan keadaan yang sedarhana dan menyesakan inilah aku mempunyai kekuatan untuk bermimpi. aku benar-benar menikmati hidup seperti itu. Namun, ketika semua sudah ada dipelupuk mata sedikit demi sedikit hal yang aku perjuangkan luntur entah kenapa. 
"Sudah.. Ayo berangkat..." suara gadis yang lembut dan ceria membuyarkan rintik hujan di wajahku.
Ah... kenapa harus ada dia. Dan kenapa selalu dia yang berada diantaraku. Tepat ia berada disampingku, menatap mataku lamat-lamat lagi. 
"Apa?" tanyaku datar.
"Kau hanya butuh membuka buku usangmu itu, tentang rencana-rencana yang kau punya sebelum kau disini, lihat kembali mimpi-mimpi yang pernah kau tulis sebelumnya..." lalu langkahnya meninggalkanku. Aku masih tertegun. Sama seperti biasanya dia selalu mampu membaca apa yang tertulis dimataku.
Hujan semakin deras. Aku mengembangkan payung merahku. Berjalan bersisihan denganya, alasan aku tetap bertahan disini, bersama mimpiku.

--AMAYA--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar